Pada Minggu 17 Maret 2024, lebih dari 13.000 anak-anak di jalur Gaza, Palestina, telah menjadi korban pembunuhan Israel sejak 7 Oktober 2023 lalu. Namun asalnya penyerangan Israel yang sudah diawali sejak 1967 ini jika dihitung justru membunuh lebih banyak korban tak terhingga. Sedangkan, anak-anak yang masih hidup berhadapan dengan kondisi kekurangan gizi karena minimnya asupan pangan pada wilayah tersebut. Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) telah mencatat, kini di Gaza Utara, satu dari tiga anak di bawah usia dua tahun mengalami kekurangan gizi akut.
Serangan Israel terhadap Gaza hampir membuat 2,3 juta penduduk negara itu terpaksa mengungsi sehingga memicu krisis kelaparan. Bahkan rumah sakit di Gaza telah melaporkan beberapa kematian anak-anak akibat kekurangan gizi dan dehidrasi. Ketika jumlah korban tewas di Gaza telah melebihi 31.000, kritik internasional terhadap Israel pun meningkat.
Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell baru-baru ini menyatakan keprihatinan serius mengenai situasi anak-anak di Gaza yang menderita anemia parah dan kekurangan gizi. Russell mencatat bahwa di bangsal anak-anak, tangisan menggantikan keheningan yang memilukan karena anak-anak pun tidak mempunyai tenaga untuk menangis. Tantangan besar dalam menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Gaza merupakan salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap memburuknya situasi.
“Seluruh bangsal benar-benar sepi. Karena anak-anak, bayi bahkan tidak punya tenaga untuk menangis,” jelasnya.
“Ribuan lainnya terluka atau kami bahkan tidak dapat menentukan di mana mereka berada. Mereka mungkin terjebak di bawah reruntuhan,” tutur Russel seraya menyebutkan di seluruh dunia belum pernah melihat jumlah sebanyak ini. Selain itu ada tantangan birokrasi yang sangat besar dalam upaya menyalurkan bantuan makanan ke Gaza. Lokasi yang paling sulit diakses adalah yang terkepung dan menghadapi pengeboman Israel yang tiada henti selama lebih dari lima bulan terakhir.
Namun upaya bantuan kemanusiaan tidak berjalan mulus karena kendala birokrasi dan keamanan. Negara-negara Barat telah mendesak Israel untuk mengizinkan bantuan masuk, namun menghadapi kesulitan seperti penutupan perbatasan, kesulitan inspeksi, pembatasan pergerakan dan kerusuhan di Gaza. Sementara itu, Israel membantah membatasi bantuan kemanusiaan dan menyalahkan lambatnya penyaluran bantuan sebagai penyebab inefisiensi badan-badan PBB.
Meskipun demikian, beberapa langkah telah diambil untuk membantu mengatasi krisis ini. Pengiriman bantuan melalui udara dan laut telah dimulai, dengan World Central Kitchen yang memimpin rute laut terbaru melalui Siprus. Amerika Serikat dan Yordania juga terlibat dalam pengiriman bantuan kemanusiaan melalui udara. Namun Ratu Rania dari Yordania menekankan bahwa bantuan yang diberikan masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan darurat, yang menurut Israel menghambat akses terhadap kebutuhan dasar seperti makanan, bahan bakar, obat-obatan, dan air.
Krisis kemanusiaan di Gaza, terutama dampaknya yang mematikan terhadap anak-anak, menyoroti perlunya semua pihak yang terlibat untuk bekerja sama mengatasi hambatan dan memastikan kelancaran akses terhadap bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan. Ketika keheningan menggantikan tangisan anak-anak, kita perlu mengambil tindakan. Krisis kemanusiaan di Gaza bukan sekedar isu politik, namun merupakan seruan kemanusiaan yang memerlukan respon kolektif.
Mari kita bersatu dan terus memberikan dukungan dan bantuan kepada Palestina untuk mengakhiri penderitaan anak-anak dan menjamin hak mereka untuk hidup dengan layak. (*)
Oleh: Najma Tushobah Jamal

