SURABAYA – Masjid Nasional Al Akbar dipenuhi gelak tawa, haru, dan antusiasme jamaah akibat nasihat menggugah hati. Sabtu (18/04/2026) kemarin, kajian akbar Guyub Bareng Baik Bareng dengan Ustaz Abdul Somad sebagai salah satu pemateri. UAS membuka tausiah dengan doa dan pantun jenaka yang mencairkan suasana, sehingga terjalin keakraban antar beliau dan para jamaah. Puluhan ribu pasang mata dan telinga kompak menyimak dengan hikmat tausiah yang disampaikan UAS.
UAS menggunakan analogi bangunan Masjid Al Akbar untuk menjelaskan makna “Guyub Bareng” Dalam hidup berjamaah atau “guyub”, kita harus belajar dari bangunan. Ada yang berperan sebagai pondasi (tidak terlihat tapi kuat), dan ada yang tampil di depan. Jika material bangunan saja bisa guyub untuk menciptakan gedung yang kokoh, mengapa manusia tidak bisa.
Dari situ UAS mengingatkan bahwa ilmu tidak hanya ada di atas kertas, tapi juga pada alam. Beliau mencontohkan bahwa kesuksesan ceramahnya malam itu juga didukung oleh orang-orang di balik layar, seperti teknisi sound system hingga petugas PLN yang memastikan listrik tetap menyala. Tanpa mereka yang tidak tampil di depan, acara tidak akan berjalan lancar.
Beliau menegaskan bahwa bahkan manusia sehebat Nabi pun tidak berjuang sendirian. Seperti Nabi Musa AS: Meski gagah perkasa dan punya mukjizat tongkat, beliau tetap meminta Harun sebagai penolong (Wazir). Ada pula Nabi Isa AS: Membutuhkan Hawariyyun (penolong-penolong) untuk menegakkan agama Allah. Juga Nabi Muhammad SAW: Didampingi oleh berbagai karakter hebat; Abu Bakar yang bijaksana, Umar yang tegas, Khadijah yang dermawan, Aisyah yang cerdas, hingga Ali yang berani. Kita harus menentukan posisi kita dalam perjuangan ini, apakah ingin menjadi seperti Utsman (dengan harta), Ali (dengan kecerdasan), atau Umar (dengan tenaga).
Mengambil dari kekhawatiran banyak manusia tentang resiko berteman dengan manusia, UAS menyinggung fenomena orang yang lebih nyaman berteman dengan gadget atau AI karena takut kecewa pada manusia. Namun, beliau menekankan bahwa berteman dengan manusia berarti harus siap menghadapi kesalahan dan khilaf mereka karena manusia bukan malaikat.
Beliau memberikan 4 Jurus Menghadapi Ujian Hidup:
- Ikhtiar : Berusaha maksimal dengan tenaga dan pikiran
- Doa : Memohon kepada Allah
- Tawakal : Menyerahkan hasil kepada Allah
- Ridha : Menerima apapun ketetapan Allah dengan hati lapang (Radhiyatan Mardhiyyah)
UAS menjelaskan bahwa terkadang saat kita merasa kehilangan teman atau sedang susah, itu sebenarnya adalah bentuk terkabulnya doa kita sendiri (seperti doa Hasbiallah atau doa Qunut yang meminta dijauhkan dari takdir buruk). Allah menjauhkan orang-orang tertentu dari kita karena mereka mungkin adalah “takdir buruk” yang bisa merusak iman kita.
Hati adalah kendali atas seluruh anggota tubuh. Agar tidak terjebak pada masalah kecil (perasaan baper atau omongan orang), UAS menyarankan agar kita memenuhi pikiran dengan target-target besar. Beliau mencontohkan Ustaz Luqmanul Hakim yang fokus mengurus 700.000 santri dan Habib Muhammad bin Anis yang fokus membangun asrama. Karena pikiran mereka sudah penuh dengan urusan umat, mereka tidak punya waktu lagi untuk memikirkan hinaan atau pujian orang lain.
Di akhir tausiah, UAS menceritakan kisah wafatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq yang ingin dimakamkan di samping Rasulullah. Beliau berharap agar kebersamaan dalam acara “Guyub Bareng” ini tidak hanya berhenti di dunia atau di Masjid Al Akbar saja, melainkan berlanjut hingga ke surga Allah SWT. Beliau juga menegaskan bahwa dalam Islam tidak ada perbedaan kasta, ras, atau warna kulit; yang membedakan hanyalah ketakwaan.

UAS menutup dengan pantun akhir yang manis dan doa agar semua yang hadir mendapatkan Husnul Khatimah. Aamiin..

