SURABAYA – Gema selawat dan nasihat memenuhi ruang utama Masjid Nuruzzaman, Universitas Airlangga, dalam sebuah pertemuan besar yang menyatukan berbagai kalangan umat muslim di Surabaya. Mengusung tajuk “Guyub Bareng, Baik Bareng”, acara ini menjadi momentum refleksi mendalam tentang peran masjid sebagai pusat peradaban, bukan sekadar tempat ibadah semata.
Kajian utama pada malam tersebut menghadirkan tokoh-tokoh besar yang memberikan perspektif baru mengenai bagaimana umat seharusnya bergerak di era digital. Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA, dalam tausiahnya menekankan pentingnya mengubah potensi besar masjid menjadi kekuatan riil melalui empat langkah strategis: penguatan (strengthening), pemberdayaan (empowering), orkestrasi, dan pembangunan ekosistem.

“Masjid ini luar biasa potensinya, tapi kita harus memastikan kebermanfaatannya bagi masyarakat. Sesuatu yang bermanfaat akan tetap bertahan di muka bumi, sementara yang tidak bermanfaat akan hilang,” ujar Prof. Nuh. Beliau juga mengajak para pengurus masjid untuk menjadi pembelajar sejati dan terbuka terhadap transformasi digital guna menghapus ketidakmungkinan menjadi peluang nyata.
Sejalan dengan pesan tersebut, Katib Aam PBNU, K.H. Ahmad Said Asrori, menggarisbawahi kunci keberhasilan program keumuman adalah silaturahim yang kokoh. Beliau mengingatkan bahwa di tengah situasi dunia yang sedang “tidak baik-baik saja”, semangat guyub atau kebersamaan adalah benteng utama. “Jangan ada hasud atau iri hati. Kita harus memiliki alaqah rohaniah dan jasadiah—hubungan batin dan fisik yang kuat. Jika dewan masjid sudah mencintai masjidnya, insyaallah semua program akan berjalan dengan pertolongan Allah,” tuturnya.
Sementara itu, Prof. Dr. Thohir Luth, MA, memberikan suntikan semangat dengan menyamakan khidmah di jalan masjid sebagai bentuk jihad fisabilillah. Beliau menekankan bahwa setiap langkah pengabdian untuk umat akan mengangkat derajat kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT.

Nuansa kebersamaan “Guyub Bareng” ini juga melatari prosesi pelantikan Pengurus Daerah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Surabaya masa bakti 2026-2031. Dr. H. Arif Afandi, M.Si., yang baru saja dilantik sebagai Ketua DMI Surabaya, menegaskan visinya untuk menjadikan masjid sebagai simpul keguyuban umat. Salah satu program unggulan yang dibahas adalah penguatan ekonomi jamaah melalui koperasi masjid, yang diharapkan mampu menjadi solusi nyata bagi persoalan kemiskinan di sekitar masjid.

Acara yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan doa bersama, membawa harapan baru bahwa dari masjid-masjid di Surabaya, akan lahir gerakan sosial-ekonomi yang mampu memakmurkan dan sekaligus dimakmurkan oleh jamaahnya.

