Essay

Penyakit Psikologis Hoarding Disorder: Suka Beli Barang, Tapi Cuma Ditumpuk

PERKEMBANGAN modernisasi memang berdampak cukup besar kepada berbagai aspek kehidupan manusia. Salah satunya adalah aspek psikologi.

Mungkin ada yang pernah nonton film lawas berjudul Confession of Shopaholic, yang dibintangi oleh  Isla Fisher, yang rilis tahun 2009. Film ini bercerita tentang orang yang kecanduan shopping, sampai gak ada bedanya sama orang sakit jiwa. Bahkan dibelain hutang via credit card, meskipun dia tahu gak mungkin bisa bayar tagihannya. Dan sakitnya lagi, barang-barang fashion yang dia beli, kebanyakan hanya ditumpuk di lemari, nggak sempat terpakai.

Baru-baru ini juga ada serial Netflix yang menceritakan penyakit psikologis yang mirip-mirip seperti itu. Tidying Up With Marie Kondo. Beli baju menggunung, nggak dipakai, bahkan dia nggak ingat kalau baju-baju itu dia yang punya.

Ternyata orang seperti ini dalam ilmu psikologi disebut mengidap penyakit hoarding disorder. Yaitu penyakit mental atau psikis yang penderitanya punya kebiasaan menumpuk barang dirumahnya. Dia bukan kolektor yang memang meminati satu jenis barang, akan tetapi penderita hoarding akan menumpuk barang yang nggak jelas alasannya. Apapun dibeli, lalu dibiarin numpuk dirumahnya atau di kamarnya.

Akibat dari penyakit psikologis ini adalah, pertama, tempat tinggalnya pasti tidak rapi dan serba berantakan. Barang-barangnya penuh diberbagai sudut ruangan. Sehingga tempat tinggalnya pasti tidak nyaman lagi.

Kedua, sudah pasti barang yang menumpuk akan menyebabkan debu dan jamur, sehingga pasti akan mempengaruhi kesehatan dari orang tersebut.

Ketiga, barang-barang yang disimpan tersebut pasti lama-kelamaan akan rusak dengan sendirinya, sehingga akhirnya tidak bermanfaat sama sekali. Mubadzir.

Orang-orang yang punya kebiasaan seperti ini wajib melakukan terapi untuk dirinya sendiri. Mulai dari manajemen keuangan yang harus ketat dan terkontrol, hingga gaya hidup yang berpotensi menyebabkan munculnya keinginan untuk membeli barang baru lagi. Salah satu yang disarankan, orang seperti ini wajib dibantu dan diawasi oleh keluarganya. Agar setiap muncul keinginan, ada orang yang membantu mengingatkan. Biar nggak kalap.(*)

Oleh: Abu Hafizh
Editor: Faizah

Mimin

Mimin

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Essay

Bertebaranlah di Muka Bumi!

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS.
Essay

Ustadz Kok Wibu?!

BANYAK yang kaget, kalau saya ternyata pembaca setia manga Dragon Ball hingga saat ini. Bahkan bukan cuma itu, sampai hari
Top