Essay

Bagaimana Kalau Aku Hilang Arah?

Manusia sebagai hamba Allah yang tidak sempurna tentu tidak luput dari berbagai kekhilafan dan kealpaan. Hal yang wajar saja, saya rasa bilamana terkadang kita merasa seperti sedang diambang batas. Merasakan kehampaan yang secara tiba-tiba merasuki diri tanpa ijin. Saya rasa itu merupakan salah satu proses kita manusia sebagai hamba-Nya yang tidak sempurna, ada kalanya iman kita berada di puncaknya namun juga ada kalanya iman kita terjun hingga ke titik beku paling bawah.

Tidak wajar adanya bila kita tidak mengupayakan terbaik dan berhenti untuk belajar. Sebagaimana yang disampaikan Rasulullah :

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang (mau) bertobat.” (HR. At-Tirmidzi).

Proses religius tiap orang berbeda-beda. Barangkali ada yang cepat, hanya melalui mendengarkan ceramah di youtube saja sudah menjadi hantaman keras bagi dirinya. Pun, ada juga yang melalui proses panjang nasehat berkali-kali dan doa orang sekitar yang kemudian membantunya untuk berubah menjadi lebih baik. Tidak apa menurut saya, itu proses belajar.

Saya pernah beberapa kali berdiskusi dengan teman-teman tentang proses belajar manusia yang tidak sama. Melalui proses diskusi tersebut yang kemudian membuat saya tersadar bahwa banyak sekali perbedaan-perbedaan persepsi manusia tentang banyak hal. Berbagai ketidak-sempurnaan dan perbedaan itulah yang kemudian menjadikan kita sangat manusiawi dan indah. Ya, indah. Seperti layaknya pelangi yang berbeda-beda warna namun ketika menjadi satu menghasilkan keindahan yang luar biasa, seperti itulah manusia hidup di dunia ini. Seperti pelangi yang berawal dari ketika spektrum putih mengalami dispersi kemudian memunculkan berbagai warna. Mungkin seperti itulah keadaan manusia, ketika dilahirkan kita seperti cahaya putih yang belum melalui proses “penguraian” maka kemudian ketika kita telah mengenal dunia, berbagai warna muncul sesuai dengan persepsi yang kita miliki. Kembali lagi, asalkan persepsi tersebut tidak keluar dari “wadah” nya atau kaidah yang berlaku.

Lingkungan berperan besar dalam proses pembentukan persepsi kita terhadap dunia. Maka, penting adanya memilih lingkup pertemanan yang bisa membawa kita tetap pada jalur yang tepat. Jalur manakah yang tepat? Tentu saja jalur yang diridhoi oleh Allah SWT. Seperti sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim tentang perumpamaan teman yang baik dan jahat :

Perumpamaan teman yang baik dan yang jahat adalah seperti orang yang membawa minyak wangi dan tukang pandai besi. Yang membawa minyak wangi, boleh jadi dia memberimu, atau kamu membeli daripadanya, atau paling tidak kamu mendapatkan harum semerbak daripadanya. Adapun tukang pandai besi, boleh jadi bajumu terbakar karenanya, atau kamu mendapatkan bau busuk daripadanya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Saya bukanlah manusia yang sempurna dan masih banyak salahnya dalam hidup ini. Menulis ini termasuk upaya saya untuk menyadari berbagai kekurangan diri ini dan mencoba untuk terus memperbaiki diri. Maka melalui tulisan ini pula, saya harap kamu juga bisa tercerahkan dan tidak lupa, tidak apa ketika sesekali lupa dan lemah. Kita manusia biasa yang tidak luput dari segala dosa, asalkan jangan pernah berhenti untuk berusaha dan berdoa. Kita ini hanya hamba biasa, meminta pada Allah atas segala ketidak-sempurnaan kita ini Allah cukupkan dan teguhkan hati kita diatas agama-Nya. Karena kemana lagi kah kita tempat berpulang selain disisi-Nya? (*)

Oleh: Ifda Faidah A.

Editor: Faizahani A.

Faizahani Atikahsari

Faizahani Atikahsari

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Essay

Bertebaranlah di Muka Bumi!

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS.
Essay

Penyakit Psikologis Hoarding Disorder: Suka Beli Barang, Tapi Cuma Ditumpuk

PERKEMBANGAN modernisasi memang berdampak cukup besar kepada berbagai aspek kehidupan manusia. Salah satunya adalah aspek psikologi. Mungkin ada yang pernah
Top