Essay

Apakah Pendidikan Seberpengaruh Itu Sampai Harus Dikejar?

Sebelum saya menyampaikan pendapat terkait pendidikan, izinkan saya untuk mengulang sejarah terlebih dahulu.

Kita semua sudah tahu bahwa pada tahun 1945, dua kota yang sangat besar di Jepang, yakni Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh Amerika. Dan saat itu, kehancuran melanda di segala macam penjuru Kota Hiroshima dan Nagasaki. Bangunan hancur, seluruh fasilitas hancur, dan berbagai hal lainnya hancur termasuk manusia yang juga turut jasadnya menjadi abu. Dua operasi pengeboman yang menewaskan sampai 129.000 jiwa ini merupakan penggunaan senjata nuklir masa perang untuk pertama kali dan satu-satunya dalam sejarah.

Lalu apa yang pertama kali ditanyakan oleh Kaisar Hirohito seorang penguasa ‘Negeri Matahari Terbit’ pada saat itu?

“Berapa jumlah guru yang tersisa?”    

Kenapa ia menanyakan guru? Sampai menanyakan jumlah guru? Kenapa tidak bertanya berapa persediaan makanan yang tersisa? Dan kenapa tidak bertanya berapa sisa lahan yang bisa ditanami?

Semua itu terjawab melalui statement singkatnya, “Bahwa Jepang telah jatuh. Jepang hari ini kalah karena mereka tidak belajar.”

Artinya mereka menyadari bahwa krisis terbesar mereka bukanlah krisis pangan, tetapi krisis pendidikan. Dengan tertinggalnya Jepang dalam dunia pendidikan, secara otomatis mereka tertinggal dalam urusan pangan, infrastruktur, dan juga berbagai hal penting lainnya.

Maka, Kaisar mengumpulkan 45.000 guru yang tersisa pada saat itu. Di tengah-tengah krisis yang begitu hebat, lewat pendidikanlah akhirnya Jepang bisa tumbuh hingga menjadi salah satu negara termaju sampai 10 besar di dunia.

Dari cerita sejarah tersebut, tentu bukan hanya sekadar cerita saja. Ada makna yang bisa diambil. Begitu dahsyatnya pengaruh pendidikan di suatu negara. Kenapa bisa begitu? Pendidikan merupakan suatu faktor pendukung yang penting dalam peningkatan pembangunan ekonomi dikarenakan dapat menciptakan suatu pola pikir pembaharuan atau inovasi.

 Saat ini, kita juga berperang dengan rendahnya kesadaran menuntut ilmu. Masih banyak pelajar yang berpandangan bahwa pendidikan bukanlah suatu kebutuhan mereka. Padahal, rendahnya kualitas sumber daya manusia juga bisa berasal dari masyarakat itu sendiri. Peningkatan hard skill dan soft skill dari mana lagi jika bukan melalui pendidikan?

Tidak hanya perihal akademik dan skill saja, justru penanaman dan pemenuhan nilai-nilai etika juga didapatkan dari sektor pendidikan. Maka akan lahir sumber daya manusia yang berkualitas.

Menurut hasil survei mengenai sistem pendidikan menengah di dunia pada tahun 2018 yang dikeluarkan oleh PISA (Programme for International Student Assesment) pada tahun 2019 lalu, Indonesia menempati posisi yang rendah yakni ke-74 dari 79 negara lainnya dalam survei. Dengan kata lain, Indonesia berada di posisi ke-6 terendah dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Ditambah lagi pendidikan di Indonesia ini tidak merata sampai ke daerah atau pelosok, permasalahan guru honorer yang tidak mendapat perhatian lebih nasibnya juga tidak kunjung usai. Kondisi ini sangatlah memprihatinkan.

Bagaimana? Sangat miris bukan?

Padahal sumber daya manusia (SDM) cukup banyak, seharusnya pendidikan bisa meningkatkan kualitas SDM Indonesia namun nyatanya tidak.

Perhatikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam berikut ini:

“Kalau begitu, bergembiralah dan berharaplah memperoleh sesuatu yang melapangkan diri kalian. Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku khawatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur.”  (Hadits Riwayat Muslim (2961) dan al-Bukhari (6425), dan Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab tentang Zuhudh al. 73)

Dari sabda tersebut kita belajar bahwa bukan kemiskinan yang paling Rasulullah khawatirkan, tetapi tidak adanya ilmu, ulama, guru, asatidz, sehingga kekayaan yang kita kira membahagiakan justru malah menyengsarakan kita.

Maka dari dua aspek dalam tulisan ini, yakni sejarah dan sabda Rasulullah, harusnya kita bisa mengambil pelajaran bahwa pendidikan adalah suatu hal yang disepakati menjadi hal pokok dalam suatu bangsa manapun. Kualitas pendidikan dalam suatu bangsa menjadi salah satu penentu kemajuan bangsa tersebut. Dengan kata lain, kemajuan suatu bangsa atau negara dapat dilihat dari bagaimana kualitas pendidikannya. Pendidikan memiliki fungsi sebagai kunci membuka jalan dalam membangun dan memperbaiki negaranya.

Maka, belajarlah sampai tuntas. Kapan tuntasnya? Ketika sudah di liang lahat. (*)

Oleh: Faizahani A.

Editor: Nur Maulida Al Mahmudah 

Faizahani Atikahsari

Faizahani Atikahsari

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Essay

Bertebaranlah di Muka Bumi!

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS.
Essay

Penyakit Psikologis Hoarding Disorder: Suka Beli Barang, Tapi Cuma Ditumpuk

PERKEMBANGAN modernisasi memang berdampak cukup besar kepada berbagai aspek kehidupan manusia. Salah satunya adalah aspek psikologi. Mungkin ada yang pernah
Top