Essay

Apakah Allah Adil?

Seringkali bertanya-tanya apa tujuan hidup. Apa yang menjadikan saya seorang manusia. Apa yang membuat saya adalah saya. Tampaknya pertanyaan-pertanyaan tersebut jika diucapkan secara lantang akan menghadirkan kernyitan pada kening sebagian orang, barangkali sebagian lain akan merasa relate dengan pertanyaan tersebut. Lalu diatas itu semua, ada pertanyaan besar yang membayangi, yaitu apakah Allah itu adil?

Saya pernah bertanya hal yang sama dengan keras kepada guru agama saya dan mendapatkan respon yang cukup ekstrim untuk anak seumuran saya saat itu. Bagaimana tidak, guru tersebut seketika memandang saya sebagai seorang yang tidak memiliki hati terhadap agama yang saya anut, hanya dari pertanyaan yang saya ajukan kepada beliau saat itu. Namun salahkah pertanyaan seorang anak umur sembilan tahun yang baru saja mengenal dunia itu? Jika dilihat lagi sekarang, sejujurnya saya merasa tidak ada yang salah dari kedua belah pihak, hanya mengenai persepsi yang berbeda saja. Guru saya tidak pernah mendapatkan pertanyaan ekstrim. Saya pun terlalu abai dengan perasaan orang lain saat itu, hanya mementingkan rasa penasaran saya sendiri. Maka keduanya tidak salah atas masing-masing perlakuan yang dilakukan. 

Dewasa ini kemudian saya menemukan jawaban saya sendiri tanpa perlu menerima jawaban lisan dari manusia lainnya. Bukan karena saya trauma dengan respon guru saya tadi, ya. Hanya saja sebagai individu, saya ingin mengeksplor pengetahuan saya melalui penjajakan pribadi dan pembelajaran kepada diri sendiri. Hmm barangkali juga sebagai validasi kepada diri saya sendiri dan membantah tuduhan guru saya tersebut, bahwasanya saya juga seorang beragama yang memiliki hati yang besar untuk agama saya. Pembuktian tersebut saya dapatkan dalam berbagai jenis peristiwa yang terjadi di kehidupan saya dan sekitar saya. Ada orang-orang yang ketika beberapa hal diambil darinya, tidak lama kemudian Sang Maha Agung memberikan pengganti yang lebih dahsyat lagi karunianya dibandingkan hal yang sebelumnya. 

Ambil saja contoh dari tayangan yang dulu menjadi pembelajaran besar bagi saya, Doraemon. Jangan salah. Banyak yang bisa kita pelajari dari kartun satu ini. Dulu saat pertama kali menonton, saya heran sekali dengan sifat Nobita yang sangat menyebalkan dan cenderung mengharapkan hal-hal dengan instan, sekali kedip jadilah keinginannya. Disaat yang bersamaan, saya juga prihatin dengan kekurangannya dalam bidang akademik sehingga menjadikan ia sering dibully oleh teman-temannya, bahkan oleh orang tuanya sendiri. Untung saja, Nobita masih memiliki Doraemon sebagai sahabat sejatinya yang rela membantu ia dalam berbagai kondisi mepet dalam hidupnya. Dari situ saya kemudian menyadari, kekurangan-kekurangan Nobita tersebut sebetulnya merupakan intrik menarik dalam cerita, bahwa tanpa kekurang Nobita, barangkali tidak ada tokoh Doraemon di dalamnya sejak awal. Adil, bukan?

Kalau masih belum bisa diterima karena apa-apaan filosofi hidup bergantung pada sebuah tayangan anak-anak yang sangat childish. Oke tidak apa, mari kita cari contoh lainnya. Lebih berat, kita bisa mengambil pelajaran dari kejahatan dan genosida yang terjadi di Palestina hingga kini. Kejahatan yang sangat keji ini mampu membuat hati saya dan mungkin juga kamu teriris-iris saat menyaksikan begitu banyak manusia yang diperlakukan tidak adil, diambil hak hidupnya, diambil rumah dan hartanya, bahkan sanak-saudara pun turut direnggut dari sisi mereka. Namun lihat lah dampaknya pada dunia. Lihat bagaimana dunia saat ini memandang Islam jauh berbeda dari pandangan sebelumnya. Jika sebelumnya dunia memandang Islam sebagai agama teroris akibat kejadian 11 September 2001 yang bahkan mungkin sebetulnya kejadiannya lebih rumit dari sekedar yang terlihat di dasarnya. Saat ini, dunia melihat Islam sebagai agama dengan pemeluknya yang begitu taat, begitu ikhlas dan percaya akan kebesaran Sang Pencipta. Tidak sedikit orang-orang yang bahkan mulai tertarik untuk belajar membaca Al-Qur’an setelah menyaksikan keteguhan anak-anak Palestina yang masih bisa melafalkan hafalan mereka di tengah jahitan tanpa anestesi. Lihat, betapa Allah itu adil. Bahwa dibalik semua hal-hal yang terjadi di dunia ini, dari yang paling remeh hingga rumit penuh dengan berbagai kepentingan elit politik pun takdir yang telah Allah ciptakan dan tulis untuk manusia tidak pernah tidak adil, tidak pernah salah. Bahwa diatas segala kemaruk kekuasaan manusia, masih ada kuasa besar milik Allah yang tiada duanya. 

Ya. akhirnya saya dapat menafsirkan arti keadilan Allah itu berkat berbagai proses yang terjadi dalam hidup saya. Tentu saja terjadinya tidak se-instan Nobita meminta mesin pengubah waktu kepada Doraemon. Banyak sakit, air mata, keringat dan darah yang saya saksikan dan juga keluarkan untuk sekedar belajar salah satu filosofi hidup tersebut. Tidak lantas menjadikan penafsiran saya benar adanya. Barangkali tafsiran kamu bisa lebih benar dari saya. Lebih mengena artinya. Lalu, saya jadi kepo nih kalau menurut kamu sendiri, bagaimana sih Adil-nya Allah itu? (*)

Oleh : Ifda Faidah A.

Editor : Faizahani A.

Ifda Faidah Amura

Ifda Faidah Amura

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Essay

Bertebaranlah di Muka Bumi!

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS.
Essay

Penyakit Psikologis Hoarding Disorder: Suka Beli Barang, Tapi Cuma Ditumpuk

PERKEMBANGAN modernisasi memang berdampak cukup besar kepada berbagai aspek kehidupan manusia. Salah satunya adalah aspek psikologi. Mungkin ada yang pernah
Top