Rasulullah ﷺ bersabda, “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah, lalu Istiqomahlah.’”
(H.R. Muslim).
Hadits ini sering kita dengar dan sering dibahas dalam taklim-taklim. Hadits ini juga masuk dalam bab hadits ke-21 dalam Kitab Arba’in Nawawi, karya Imam An-Nawawi. Bayangkan, dari ribuan hadits yang semuanya adalah sunnah yang mulia yang diturunkan Allah melalui Rasulullah ﷺ, dipilih 42 saja yang dianggap terpenting untuk dipahami, dan satu di antaranya adalah hadits yang berkaitan dengan Istiqomah ini.
Istiqomah memang hal yang sangat penting. Sebagaimana kisah di balik hadits Rasulullah ﷺ di atas mengisyaratkan bahwa inti dari seluruh nasihat adalah beriman kepada Allah kemudian komitmen untuk menjaga keimanan itu.
Ceritanya, suatu hari Nabi ﷺ didatangi oleh seorang sahabat, kemudian dia berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Kemudian Nabi ﷺ bersabda, “ Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian Istiqomahlah.”
Istiqomah bisa berarti komitmen untuk tetap di jalan kebaikan dengan melakukan seluruh kewajiban dan meninggalkan seluruh larangan. Definisi ini juga yang sering kita dengarkan ketika kita mendengarkan khatib mengingatkan agar Istiqomah menjaga ketakwaan kita pada setiap salat Jumat. Rasanya seperti sudah membekas dan hafal di luar kepala. Tapi saking seringnya kita mendengar istilah ini, justru membuat kita fokus untuk memahami, merenungi, dan menjalankannya.
Praktiknya, Istiqomah memang tidak semudah diucapkan mulut. Karena saat kita berhijrah meninggalkan perbuatan yang buruk menuju ketakwaan, setan tidak akan tinggal diam. Mereka tahu di persimpangan mana mereka akan mencegat kita. Mereka pasti sudah mengamati dan menganalisa titik-titik lemah kita, sehingga mereka akan berusaha menyesatkan kita di ttik itu.
Maka hanya dua hal yang bisa kita lakukan untuk bisa istiqomah. Pertama, MEMAKSA DIRI KITA UNTUK TERUS MEMENANGKAN ALLAH DALAM HATI KITA. Ketika kita mulai malas beribadah, menangkan Allah dalam hati kita. Paksa diri kita untuk terus beribadah. Ketika kita mulai ingin melakukan maksiat, menangkan Allah dalam hati kita. Paksa untuk menjauhi maksiat itu. Ketika teman-teman lama kita mengajak kepada keburukan lagi, menangkan Allah dalam hati kita. Paksa diri untuk menolak ajakan mereka, dan segera berkumpul dengan komunitas yang baik.
Kedua, MINTALAH PERTOLONGAN KEPADA ALLAH AGAR DIBERIKAN KEISTIQOMAHAN. Tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah, Yang Maha Membolak-balikkan hati kita. Yang Maha Memberi Petunjuk dan Kekuatan dalam hati kita. Maka jangan lupa untuk terus menerus berdoa memohon kepada-Nya. Kalau Allah swt tidak menolong kita, maka tidak mungkin kita bisa Istiqomah hanya bermodal usaha kita sendiri.
Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka.” (Q.S. Fushshilat : 30)
Ketika mereka meninggal dan berada di alam kubur, malaikat akan memberikan kabar gembira kepada mereka dengan firman Allah: “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Q.S. Fushshilat : 30)
MasyaAllah, itulah kondisi yang benar-benar menjadi impian puncak kita selama ini. Inilah imbalan yang besar yang Allah sediakan bagi hamba-Nya yang istiqomah.
Dan percayalah, bahwa kelak ketika kita berkumpul di surga-Nya—InsyaAllah, kenikmatannya akan membuat kita lupa akan perihnya luka yang disebabkan usaha kita agar tetap Istiqomah. (*)
Oleh: Aditya Abdurrahman
Edittor: Faizahani A.

