Essay

3 Langkah Radikal Agar Tidak Menjadi Upil

Menjadi sebuah upil bukanlah posisi prestise yang diimpi-impikan banyak orang. Hal tersebut dibuktikan dengan tidak ada satupun kampus di Indonesia ini yang berhasrat membuka jurusan pedidikan upil atau ilmu upil terapan. Meskipun demikian, banyak sekali yang memiliki gelar setara honoris causa karena dedikasi serta totalitasnya menjadi upil.

Sebelum kita lanjut, alangkah baiknya kita mengkaji dulu makna upil. Baik secara etimologi maupun terminology, upil adalah entitas yang sebelum dimiliki, diperjuangkan sampai dapat, tapi setelah didapat malah dicampakan lalu dibuang.

Begitulah nasib upil, seperti berharga namun tidak dihargai

Mulai familiar gak?

Hehe, sebenarnya pembahasan upil ini bermula dari jama’ah kajian pra-nikah yang nge-direct message ke instagram saya, curhat tentang masa lalu yang bekali-kali diperlakukan seperti upil. Waktu awal kenal diperjuangkan, diperhatikan, sleep call sampai pagi, bahkan sampai tidak sleep. Namun setelah pacaran dan sudah dapat yang diingkan, sifatnya berubah drastis. Bahkan yang dulu janji mau nikahin, sampai beberapa tahun tidak berani datang ke rumah.

Anehnya meski kondisi tidak menyenangkan seperti upil ini, korbannya tetap tidak sadar. Sehingga terus mengulangi kesalahan yang sama; menjadi upil berkali-kali.

Maka ada 3 langkah radikal yang harus kita lakukan

  1. Judes mode

Tapi dalam Islam harus berakhlakul karimah kepada sesama. Terus gimana, dong? Iya, itu untuk sesama jenis, tapi untuk yang lawan jenis harus lebih menjaga diri. Maka jika ada yang sok akrab dan ngajak kenalan, langsung aktifkan “judes mode”. Lagian kalau mau ngajak serius bukan kode-kode di sosial media tapi bawa onde-onde ke rumah dan ketemu sama orang tua.

2. Berkawan dengan kesepian, jangan berkawan dengan kompor

Maksudnya, biar tidak ketularan panas. ‘Kan biasannya kita mudah sekali niru dan tidak mau kalah sama teman. Sehinga ketika lihat story teman sedang jalan sama pacarnya, kita jadi pengen—kepanasan—kendor deh pertahanan kita, apalagi temannya ngiming-ngimingin. Ya jadi jebol pertahanan kita. Maka jika punya temen seperti itu lebih baik jaga jarak dulu. Tidak usah musuhin juga, tapi tidak terlalu intens. Mending cari teman yang satu frekuensi dalam menjaga diri.

3. Tobat

Ini yang paling penting. Karena sebanyak apapun tips dan trik jika kita tidak mengakui kalau perbuatan kita salah dan tidak akan mengulanginya lagi, ya percuma. Kita seperti kapok-kapok sambel, yang kalau kepedasan kapok tapi jika beberapa hari kemudian makan lagi.

Kenapa radikal?

Karena dalam KBBI, makna radikal adalah perubahan secara mendasar sampai hal prinsip dan 3 langkah ini tidak mungkin bisa dilalui tanpa memegang prinsip.

Cukup sekian, ya. Sudah ditunggu pimpinan redaksi. Hehehe. Insya Allah, kapan-kapan kita sambung lagi dengan pembahasan yang lebih berbobot ketimbang upil. (*)

Oleh: Zayyin Achmad

Editor: Faizahani A.

Faizahani Atikahsari

Faizahani Atikahsari

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Essay

Bertebaranlah di Muka Bumi!

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS.
Essay

Penyakit Psikologis Hoarding Disorder: Suka Beli Barang, Tapi Cuma Ditumpuk

PERKEMBANGAN modernisasi memang berdampak cukup besar kepada berbagai aspek kehidupan manusia. Salah satunya adalah aspek psikologi. Mungkin ada yang pernah
Top