News

Adila Hassim, Sosok Muslimah Inspiratif di Balik Gugatan Afrika Selatan

Pada 11 Januari 2024, bertempat di Den Haag, Afrika Selatan menyeret Israel ke International Court of Justice (ICJ) atas genosida yang menimpa warga Gaza, Palestina. Jumlah korban atas genosida yang didalangi oleh Israel telah menyentuh angka 23.000 jiwa. Tentu, ini bukanlah hanya sebuah angka!

Sebagai negara yang pernah mengalami hal serupa, dirampas hak-haknya, tidak diberi keadilan, tentu sangat mendorong rasa kemanusiaan dari Afrika Selatan yang pernah mengalami peristiwa apartheid. Maka, lahirlah keputusan Afrika Selatan membawa kasus ini pada Mahkamah Internasional sebagai bentuk dukungan dan simpati kepada warga Gaza yang telah 76 tahun dibantai oleh Israel. Bayangkan, 76 tahun hidup dalam pembantaian!

Tapi, tahukah kalian, ada sosok perempuan di balik gugatan Afrika Selatan dan dia dengan berani menantang Israel beserta sekutunya ini?

Srikandi Afrika Selatan

Adila Hassim, ialah sosok advokat muslimah yang mengguncang dunia! Bahkan, ia adalah satu-satunya muslimah yang tergabung dalam tim pengacara Afrika Selatan di ICJ. Tentu, keyakinannya menjadi komponen penting dalam identitasnya. Membentuk pandangan dunia dan berpotensi mempengaruhi pendekatannya terhadap masalah hukum.

Perempuan berdarah Yaman ini lahir pada tahun 1965 di Durbin, Afrika Selatan dengan nama Adila Hassim Ali Muhammad Al-Masyriqi .

Melalui program beasiswa yang ia raih, Adila menamatkan program Masternya di Universitas Saint Louis dan program doktoral di Notre Dame Law Scholl of Notre Dame, Amerika.

Di Afrika Selatan, ia dikenal sebagai pengacara pembela rakyat kecil. Dikenal luas dengan perannya dalam memperjuangkan keadilan bagi rakyat jelata.

Dedikasi Terhadap Palestina

Pada tahun 1994, ada peristiwa pembantaian di Masjid Ibrahimi di Tepi Barat yang menewaskan 29 orang serta 150 luka-luka. Peristiwa itulah membuat hati Adila Hassim resah dan mengguncang nuraninya sehingga ia mencari cara bagaimana membela hak-hak rakyat Palestina.

Tahun 2014, ia berhasil bergabung dalam tim pencari fakta Afrika Selatan untuk kasus “Pembantaian Masjid Ibrahimi”.

Pada awal tahun 2024, Palestina sudah menjalani hari-hari penuh ancaman serangan dari Israel. Sudah lebih 100 hari pembantaian tersebut terus menerus terjadi. Bahkan serangan membabi buta dilancarkan oleh IDF kepada rumah sakit, gereja, masjid, dan camp-camp pengungsian.

Adila Hassim dengan berani menjadi pemimpin tim pengacara Afrika Selatan dengan membawa dakwaan setebal 84 halaman. Di Pengadilan Internasional, sosoknya tampil dengan penyampaian yang tegas atas kejahatan penjajah Israel dan bukti-bukti tindakan genosida entitas Zionis di Jalur Gaza.

Dengan argumen pembukanya, Adila menekankan parahnya serangan brutal Israel terhadap warga Gaza dan menggambarkannya sebagai salah satu kampanye pengeboman konvensional terberat dalam sejarah peperangan modern. Terpusat pada ancaman persenjataan, pengeboman, kelaparan, dan penyakit yang ditimbulkan oleh Israel terhadap penduduk Palestina di Gaza sebagai akibat penghancuran kota-kota dan pembatasan akses bantuan.

“Mereka juga menghadapi risiko kematian akibat kelaparan dan penyakit”, ujar Adila Hassim.

Ia juga menegaskan bahwa Israel sengaja memperburuk kondisi di Gaza yang menyebabkan penduduknya hancur secara fisik.

“Israel mengerahkan 6000 bom perminggu. Tidak ada seorang pun yang selamat. Bahkan bayi yang baru lahir pun tidak. Para pemimpin PBB menggambarkannya sebagai kuburan anak-anak” tegasnya.

Adila Hassim memberikan fakta bahwa penjajahan dan penindasan yang dilakukan Israel kepada rakyat Palestina melebihi “Apartheid” yang terjadi di Afrika Selatan. Hal ini yang membuatnya yakin untuk terus berjuang demi hak-hak rakyat Palestina dengan mendedikasikan dirinya sebagai pakar hukum.

Belajar dari Shahabiyah

Para shahabiyah juga berkiprah dalam bidang politik dan sangat besar pengaruhnya dalam mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang digdaya.

Adalah Asma’ binti Abu Bakar r.a, dengan julukan yang melekat padanya yaitu Dzatun Nithaqain (pemilik dua ikat pinggang), seorang muhajirah cerdas dan pemberani. Ia berperan penting bagi keberhasilan hijrah Rasulullah saw dengan mengorbankan harta bahkan jiwa raganya.

Tidak jauh dari nama shahabiyah yang sebelumnya, Asma’ binti Yazid bin Sakan bin Rafi’ bin Imri’il Qais bin Abdul Asyhal bin Haris Al-Anshariyah, salah satu shahabiyah yang kritis dan pandai berbicara. Ia dikenal sebagai salah satu shahabiyah yang berani bertanya kepada Rasulullah saw untuk mewakili kaum perempuan sehingga dijuluki “Juru Bicara Perempuan”.

Ada pula peran ‘Aisyah yang sangat dipertimbangkan dalam pengambilan kebijakan pemerintah. Ia adalah konsultan para ulama. ‘Aisyah juga berperan dalam upaya penyelesaian kasus pembunuhan Utsman di masa pemerintahan ‘Ali bin Abi Thalib. Ia adalah perempuan yang cerdas dan tinggi ilmunya sehingga semua istri Rasulullah saw setuju tentang pandangannya. ‘Aisyah juga pernah pergi ke Basrah untuk menyelesaikan masalah negara.

Dari seluruh kisah muslimah yang hebat, saatnya perempuan mengambil peran untuk membangkitkan umat dengan aktivitas politik sesuai dengan Islam. Menjadi perempuan cerdas dan berperan penting untuk umat adalah cita-cita yang besar. (*)

Oleh: Faizahani A.

Editor: Ifda Faidah A.

Faizahani Atikahsari

Faizahani Atikahsari

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

News

Nobar Hamka Vol.2, Pembina BYF: “Film ini gambarkan sosok pasangan panutan umat!”

“Jika kita perhatikan, banyak kejadian hebat yg dialami HAMKA justru krn dukungan istrinya. Meski yg publik sorot adalah kehebatan HAMKA,
Top