Essay

Konsisten, Ketahanan Diri dalam Menghadapi Distraksi

Setiap manusia pasti memiliki keinginan untuk mencapai sesuatu, yang mempunyai passion bisnis pasti ingin bisnisnya maju, punya banyak cabang, omzet besar atau bahkan bisa IPO. Yang passion-nya menulis pasti ingin menerbitkan buku, lalu bukunya menjadi best seller. Begitu juga yang ingin fokus di bidang akademik inginnya lanjut ke jenjang studi yang paling tinggi, di kampus benefit dan seterusnya.

Pada awalnya semangat kita berapi-api untuk mewujudkan keinginan itu, bahkan setiap orang diajak ngobrol sudah tahu tentang keinginan kita, mungkin bisa jadi juga bosan mendengar kita selalu membahas topik yang sama. Tapi ketika sebuah keinginan hanya sebatas di angan-angan, tanpa ada progress yang nyata atau masih langkah awal kita telah gagal padahal prosesnya masih sangat jauh dan panjang, akhirnya semangat itu menurun dan perlahan menghilang.

Beberapa kali gagal dalam sebuah tahapan proses panjang adalah wajar, yang seharusnya kita lakukan adalah mengevaluasi diri, bukan malah menyerah. Karena hakikatnya bukan hanya sebuah tujuan yang berhasil kita raih, tapi juga tentang kualitas diri kita yang telah berubah menjadi lebih baik dari ketika kita kali pertama melangkah untuk memperjuangkannya.

Pada zaman kemajuan teknologi informasi seperti ini, kendala paling sering dialami adalah kehilangan konsentrasi terhadap peta kerja atau tahapan untuk mencapai goal kita, contohnya ketika  kita sedang fokus untuk membuat proposal bisnis, tiba-tiba ada pop up whatsapp masuk, ada pesan dari teman sehingga yang seharusnya hanya satu jam untuk mengerjakan proposal, bisa over time atau bahkan tidak rampung. Ini juga berlaku dengan notifikasi media sosial, ­e-mail, news, dan lain sebagainya.

Terlalu reaksioner dan merasa semuanya penting serta harus ditanggapi sesegara mungkin itu tidak baik dan akan mengacaukan konsentrasi kita. Kita perlu menumbuhkan awareness terhadap diri kita sendiri untuk mencari solusi yang tepat terhadap distraksi, ada yang cukup dengan mematikan ponsel, ada yang sampai perlu untuk berpindah ruangan khusus agar pekerjaan kita bisa rampung dengan hasil maksimal.

Poin selanjutnya adalah tentang keproduktivitasan. Saya termasuk yang tidak setuju dengan istilah me time management karena kita tidak akan bisa mengatur waktu, waktu akan berjalan terus selama 24 jam dan semua manusia di bumi ini berada dalam 24 jam itu. Namun dalam jatah waktu yang sama, ada yang sangat produktif tapi juga ada yang sebagian besar waktunya hanya dihabiskan untuk bermalas-malasan. Maka bukan waktu yang harus kita atur, namun diri kita sendirilah yang harus kita atur. Self management mungkin itu istilah yang paling cocok.

Dalam self management, kelemahan dan kelebihan diri kita harus kita inventarisasi terlebih dahulu karena tidak semua teori atau advice cocok dengan semua orang, baru nanti kita kembangkan diri kita agar kita bisa merealisasikan peta kerja untuk mencapai goal yang telah kita buat.

Lalu bagaimana jika kita yang telah memiliki goal atau tujuan untuk dicapai namun tidak memiliki peta kerja? Sepertinya kita harus mengambil satu cangkir kopi lagi lalu berpikir, apakah kita benar-benar serius atau hanya sekadar agar ada jawaban ketika ditanya orang lain, “Apa yang ingin kamu capai?” (*)

Oleh: Zayyin Achmad

Editor: Faizahani A.

Faizahani Atikahsari

Faizahani Atikahsari

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Essay

Bertebaranlah di Muka Bumi!

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS.
Essay

Penyakit Psikologis Hoarding Disorder: Suka Beli Barang, Tapi Cuma Ditumpuk

PERKEMBANGAN modernisasi memang berdampak cukup besar kepada berbagai aspek kehidupan manusia. Salah satunya adalah aspek psikologi. Mungkin ada yang pernah
Top