Dalam perjalanan dakwah, Rasulullah SAW melakukan hijrah sebanyak dua kali. Pertama, beliau melakukan hijrah dari Makkah ke Habasyah, kemudian hijrah kedua dilakukan ke Madinah. Hijrah sering dilakukan Rasulullah SAW karena beberapa alasan yang signifikan. Salah satunya adalah untuk melindungi kaum muslimin dari sengsara yang disebabkan oleh siksaan kaum kafir Quraisy di Mekkah.
Seperti pada saat peristiwa sebelum hijrah ke Habasyah, dimana Rasulullah SAW mengalami kesedihan ketika umat yang dicintainya disiksa oleh kaum Quraisy. Penderitaan kaum muslimin yang disiksa kaum Quraisy yang dihadapi Rasulullah SAW membuatnya merasa sedih. Kaum Quraisy sangat tegas dalam membela kebatilan dan siap memperjuangkannya. Bahkan Nabi Muhammad SAW sering dibenci dan dilecehkan oleh kaum kafir Quraisy. Hal ini menunjukkan betapa sulitnya perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan ajaran Islam di tengah tantangan dan perlawanan sengit dari kaum Quraisy.
Begitu pula pada peristiwa hijrah ke Madinah, di mana kaum muslimin harus menghadapi penindasan dan permusuhan di Mekkah. Bahkan kaum Quraisy merencanakan pembunuhan Rasulullah SAW, karena takut Islam akan semakin berkembang. Rasulullah SAW selalu mendoakan umatnya meskipun beliau sendiri dalam keadaan terancam, sehingga kemudian Allah menurunkan perintah untuk berhijrah.
Rasulullah SAW terus medo’akan umatnya dalam kesedihannya melihat penderitaan yang mereka alami. Hingga Allah memberikan jawaban dengan menurunkan perintah untuk berhijrah bersama kaum muslimin kepada Rasulullah SAW dari Mekkah ke Habasyah dan kemudian juga ke Madinah. Perintah berhijrah adalah bentuk cinta dan kepedulian Rasulullah SAW beliau terhadap umatnya.
Di tengah penantian kaum Muslimin sebelum turunnya perintah berhijrah, kaum Muslimin tetap tegar untuk mempertahankan keimanan mereka kepada Allah SWT. Meskipun kaum Quraisy memberikan tawaran-tawaran menarik agar mereka meninggalkan agama Islam atau melanggar perintah Allah, kaum muslimin tetap menjaga keimanan mereka dan melaksanakan perintah Allah. Ketegaran dalam menjaga keimanan yang dilakukan kaum muslimin di masa itu mencerminkan ketakwaan yang begitu dalam.
Ketakwaan yang dimiliki kaum muslimin kala itu berasal dari besarnya rasa cinta mereka kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, sehingga mereka percaya bahwa pertolongan akan datang dan Allah akan memberikan jalan. Ketakwaan inilah yang seharusnya dapat kita teladani di tengah banyaknya godaan dan terpaan yang kita hadapi saat ini, terutama di bulan Ramadhan.
Saat ini, tentunya banyak sekali godaan dan terpaan yang dihadapi para pemuda di bulan Ramadhan, banyak di antaranya yang sudah tidak lagi mencerminkan nilai-nilai yang dianut sebagai seorang muslim. Berbagai fenomena yang tadinya melanggar syariat bahkan beberapa tidak sesuai dengan norma asusila mulai dinormalisasikan. Seperti pacaran, berpegangan tangan, berpelukan, bahkan pergaulan bebas mulai dianggap wajar. Ditambah lagi luasnya media saat ini, di mana pertunjukan, pakaian, bahkan gaya hidup yang kurang terpuji tidak dapat difilter. Bahkan kemajuan teknologi yang harusnya dapat dimanfaatkan untuk kebaikan, terkadang justru dapat menghancurkan karakter seseorang.
Oleh karena itu memegang ketakwaan sebagai seorang pemuda saat ini sangatlah penting, berpuasa di bulan Ramadhan bisa menjadi salah satu cara untuk meningkatkan ketakwaan, apalagi jika diiringi dengan berbagai amal sholeh seperti membaca Al-Qur’an ataupun mengikuti kajian. Terutama kajian yang mengingatkan kita terkait perjuangan Rasulullah SAW, sehingga kita dapat mengingat besarnya rasa cinta Rasulullah SAW kepada umatnya dan bagaimana ketakwaan para sahabat dan kaum Muslimin di masa itu. Karena dengan mencintai apa yang apa yang kita imani, Insya Allah manisnya keimanan dapat kita rasakan. (*)
Oleh: Najma Tushobah Jamal
Editor: Faizahani Atikahsari

