Essay

Ketika Orang Tua Tidak Mendukung Hijrah Kita

Dalam kajian-kajian hijrah, selalu ada saja yang bertanya bagaimana menghadapi orang tua yang justru tidak suka anaknya sering ikut-ikut pengajian. Bukan hanya itu, ada juga yang ditentang habis-habisan oleh orang tuanya perihal perubahan gaya berpakaian yang semakin syar’i. Bahkan yang lebih aneh, ada salah satu teman saya yang dimarahi ibunya gara-gara rajin ke masjid. Kata ibunya, “Kamu itu kalau jadi orang Islam yang biasa-biasa aja, lah! Tetangga-tetangga pada nasehatin ibu, ‘hati-hati kalau ikut pengajian, khawatirnya anaknya ikut kelompok teroris, loh..’”.

Kalau kita perhatikan, disini ada dua fenomena yang unik dan Insya Allah keduanya bisa diselesaikan dengan strategi pendekatan yang baik.

Pertama, fenomena orang tua yang takut anaknya ikut pengajian kemudian terjerumus aliran radikalisme. Meskipun sebenarnya yang dilakukan anaknya adalah mengikuti sunnah Nabi Saw, tapi orang tua yang awam mengira itu radikalisme alias terorisme.

Kedua, fenomena hijrahnya sang anak yang tidak berhasil meyakinkan orang tua bahwa apa yang dilakukannya ini adalah perubahan yang menuju pada kebaikan, bukan sebaliknya.

Maka ketahuilah, kalau ada orangtua, yang takut anaknya ikut pengajian, pasti karena khawatir anaknya terjerumus radikalisme. Bahasa mereka: terorisme. Padahal kita tahu bahwa tidak demikian yang sebenarnya. Maka kita hanya cukup memberikan pemahaman secara bertahap bahwa kecurigaan mereka itu tidak benar.

Masalahnya, rata-rata para kaum muda yang berhijrah lebih mendahulukan perubahan penampilannya dibandingkan dengan perubahan akhlaknya. Baru ngaji beberapa bulan langsung style berpakaiannya berubah total, berniqab, bercadar.

Padahal bagi orang tua yang masih awam, cadar adalah pakaian yang membawa konotasi negatif: radikalis, ekstrimis, teroris. Ini yang bikin syok orang tua, yang barusan kemarin lihat anaknya gak berhijab, tiba-tiba sekarang bercadar.

Bukan gak boleh, tapi cobalah melakukan perubahan diri yang berdasarkan ilmu dan pertimbangan dakwah kepada keluarga.

Dasar ilmu, yang dimaksud ini adalah kita perlu belajar sebelum beramal. Misalnya tentang hukum menutup aurat, dalam Islam adalah wajib. Bagi perempuan, seluruh tubuhnya adalah aurat kecuali telapak tangan dan wajah. Sebagian besar ulama menyatakan bahwa menutup wajah tidak wajib, melainkan sunnah.

Sedangkan pertimbangan dakwah yang dimaksud disini adalah selain kita berislam untuk diri kita sendiri, kita juga punya tanggungjawab memberikan citra yang positif tentang Islam kepada orang-orang di sekitar kita. Dalam hal ini keluarga kita sendiri. Maka membuat tahapan-tahapan dalam menyampaikan Islam kepada keluarga harus benar-benar kita pahami. Tidak boleh ‘asal tabrak’ saja kalau keluarga masih belum paham.

Maka seperti dalam pertimbangan bercadar tadi, kita harus lebih mempertimbangkan, apakah memaksakan diri melakukan hal yang sunnah, tapi orang tua jadi benci, ataukah kita memilih berhijab syar’i yang “standar” dulu, sambil pelan-pelan menjelaskan Islam ke orang tua? Bukankah menyenangkan hati orang tua hukumnya wajib, selama tidak melanggar aturan syari’at?

Akan ada saat yang pas untuk menjalankan sunnah bercadar tersebut dalam kondisi yang jauh lebih kondusif. Atau jika memang memiliki keinginan yang kuat untuk menggunakannya segera, maka gunakan ketika berada diluar rumah, tanpa sepengetahuan orang tua.

Perubahan Akhlak.
Perubahan akhlak adalah perubahan yang utama yang harus kita lakukan dan kita tunjukkan kepada orang tua kita. Kalau kita masih belum berlemah-lembut kepada orang tua, belum perhatian kepada mereka, belum melayani mereka, atau masih suka bangun kesiangan, tidak peduli terhadap kesulitan orang tua, tidak peduli dengan pekerjaan domestik: piring kotor menumpuk, halaman rumah kotor berdebu, cucian menggunung, MAKA WAJAR MEREKA TIDAK MENYAMBUT BAIK HIJRAH KITA.

Padahal Rasulullah Saw adalah sosok yang paling dicintai kaumnya karena akhlak beliau yang mulia. Seharusnya ini kita bisa kita pahami, bahwa untuk merebut hati orang tua tidak lain adalah dengan memperbagus akhlak kita kepada mereka.

Dengan solusi seperti ini, saya yakin, Insya Allah, hati orang tua akan luluh. Mereka akan percaya kepada kita bahwa apa yang kita pelajari di pengajian itu hal yang positif, bukan radikalisme. Dan bisa jadi suatu hari orang tua kita penasaran, lalu ikut ngaji bareng kita karena melihat perubahan kita. Insya Allah. Wallahu a’lam. (*)

Oleh: Aditya Abdurrahman
Editor: Faizahani Atikahsari

Faizahani Atikahsari

Faizahani Atikahsari

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Essay

Bertebaranlah di Muka Bumi!

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS.
Essay

Penyakit Psikologis Hoarding Disorder: Suka Beli Barang, Tapi Cuma Ditumpuk

PERKEMBANGAN modernisasi memang berdampak cukup besar kepada berbagai aspek kehidupan manusia. Salah satunya adalah aspek psikologi. Mungkin ada yang pernah
Top