Berbicara tentang kepemimpinan bukanlah suatu hal yang mudah. Ada tanggung jawab besar, ada kehidupan dan juga suara-suara yang perlu di dengar oleh seorang pemimpin. Oleh karena itu, ketika diberikan amanah dan tanggung jawab maka seorang pemimpin haruslah membuat orang-orang yang dipimpinnya percaya padanya. Bukan hanya sekadar memberi ucapan manis dan harapan kosong namun juga secara nyata membuktikan pengabdian yang bisa mereka lakukan. Karena sekali lagi, tanggung jawab yang dimiliki seorang pemimpin akan besar sekali ketika menjadi pertimbangan yang berat di Yaumul Hisab nanti.
Barangkali ketika membayangkan seorang pemimpin yang sempurna, maka di otak kita sebagai seorang muslim akan otomatis tertuju pada junjungan kita, Rasulullah SAW. Tidak ada cacat, tidak ada ketimpangan, tidak ada kemungkaran, hanya keadilan dan kesejahteraan umatlah yang menjadi fokus utama Rasulullah SAW. Ada momentum dimana ketika saya berpikir tentang sosok ideal seorang pemimpin selain Rasulullah yang memang menjadi utusan langsung dari Allah SWT, sosok-sosok pemimpin kekhalifahan dari sahabat-sahabat Nabi Muhammad turut menjadi hal yang selalu melekat di otak saya tentang idealisme seorang pemimpin.
Sebut saja sosok Umar bin Khattab. Begitu banyak kisah-kisah hidup Umar sebelum menjadi khalifah hingga kematiannya yang membuat saya selalu berpikir, barangkali Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya memang manusia-manusia terpilih yang sungguh luar biasa ketaatannya. Melihat bagaimana sosok pemimpin kita saat ini tuh bagaikan langit dan bumi. Kalo kata anak muda jaman now sih, bare minimum banget lah. Dikasih bansos gratis? Senang. Diperhatikan dikit? Senang. Padahal, little did we know, itu tuh hal fundamental, hak dasar yang memang harus dipenuhi sebagai seorang pemimpin.
Ingat tidak bagaimana kisah Umar bin Khattab ketika harus bertemu dengan pemimpin dari Yerusalem saat pertama kali pasukan muslim berhasil mengambil alih kota tersebut dan pemimpin kunci dari Yerusalem hanya ingin bertemu dengan Umar? Pada saat itu, Umar datang hanya berdua dengan seorang budaknya. Bahkan sejak awal keberangkatan nih, Umar udah deal deal-an sama budak tersebut kalau mereka akan menaiki unta secara bergantian. Iya betul, believe it or not, mereka hanya membawa satu unta untuk perjalan itu. Seadil itu. Ketika sudah mau mencapai gerbang Yerusalem nih, kebetulan memang waktu bergantian untuk budak tersebut yang menunggangi unta yang hanya satu itu. Padahal budak tersebut sudah konfirmasi nih ke Umar kalau yaudah lah gapapa kalo Umar yang naik untanya, secara mereka sedang dalam misi penting untuk bertemu dengan salah satu pemimpin dari kota yang baru saja pasukan muslim kalahkan. Dalam pemikiran picik kita sebagai manusia biasa, kalau mau bertemu dengan lawan atau musuh tuh kan kita berusaha sebisa mungkin untuk memberikan impresi yang kuat nih ya. Umar bin Khattab punya pemikiran lain. Bahkan ketika sudah menginjakkan kaki di Kota Yerusalem dan bertemu dengan para sahabat lainnya saja, mereka kaget banget melihat penampilan Umar yang saat itu well, bisa dibilang underdressed. Baju yang Umar pakai memiliki tujuh puluh tembelan disana sini, bahkan ada beberapa noda lumpur di bajunya karena Umar memang tidak sengaja jatuh saat di perjalan. Tahu apa jawaban Umar ketika para sahabat lain membujuknya untuk ganti baju?
Umar bilang, “Sesungguhnya kita semua ini adalah hina, lalu kita dimuliakan Allah dengan Islam, jika kita mencari kemuliaan selain Islam sudah tentu kita akan dihina oleh Allah”. Dibandingkan dengan kebijakan Umar tersebut, coba deh kita lihat lagi pemimpin negeri kita tercinta ini. Rumah mewah, berkendara dengan mobil dan dilindungi oleh pawai para ajudannya, istri berpakaian serba mengkilap dan emas disana-sini, anak-anak pejabat bersekolah di lingkungan elit. Ya pokoknya gitu deh, bitter mulu kalo saya yang rakyat jelata ini lihat.
Keteladanan lain yang bisa dilihat dari kepemimpinan Umar bin Khattab adalah sikap adilnya yang tidak pandang bulu kepada siapapun termasuk keluarganya sendiri. Ada kisah ketika anaknya melakukan kesalahan, maka beberapa sahabat memutuskan untuk tidak memberikan hukuman sesuai dengan peraturan yang berlaku, namun saat hal itu sampai di telinga Umar, dia meminta agar anaknya dihukum sesuai dengan peraturan yang ada dan menolak untuk memberikan privilege bahkan kepada anaknya sendiri. MasyaAllah sekali yaaa. Bahkan Umar bin Khattab juga menolak loh menurunkan kekhalifahan pada anaknya karena merasa bahwa hal tersebut tidak benar, bahkan sejak dahulu pemimpin kita memberikan contoh kepada kita bahwa politik dinasti tuh sebetulnya tidak baik. Hehehe ytta yaaa, yang tahu tahu aja.
Sekian banyak sikap teladan yang bisa kita petik dan jadikan pembelajaran nih dalam hidup kita. Menjadi pemimpin memang tidak akan pernah mudah. Banyak tanggung jawab yang harus dipikul, maka tidak semua orang mampu untuk mengembannya. Butuh kematangan berpikir, integritas yang kuat hingga empati yang besar agar bisa memimpin dengan baik. Jadi, dari sekian banyak sikap teladan Umar bin Khattab itu, mana sih yang jadi favorit kamu? Atau kamu memiliki gambaran tentang sosok teladan lainnya? (*)
Oleh : Ifda Faidah A
Editor : Faizahani A

