Mungkin kita pernah terbesit ketika melihat kompleksnya problematika yang dihadapi kaum muslimin di muka bumi ini. Masalah kemiskinan yang begitu besar, masalah pendidikan yang kualitas dan kuantitasnya masih sangat kurang, masalah akhlak yang terus-menerus mengalami terpaan, masalah sosial, politik, penjajahan, dan masih banyak lagi. Kompleksnya permasalahan yang dihadapi kaum muslimin ini membuat kita bertanya, “Mungkinkah kita bisa memperbaiki itu semua?”
Pertanyaan itu jelas mudah untuk dijawab “bisa” bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa, Maha Segala-galanya. Tapi masalahnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu yang mengubah nasibnya sendiri. Kita tetap punya kewajiban berikhtiar untuk memperbaiki itu semua, bukan sekadar duduk diam sambil menunggu pertolongan dari Allah.
Maka pertanyaan berikutnya adalah, piye carane? Alias bagaimana caranya?
Menghadapi permasalahan yang kompleks tentu akan sangat berat jika sendirian. Dan solusi itu sebenarnya sudah ada jika membuka lagi kitab-kitab sirah tentang dakwah Rasulullah saw.
Bayangkan, dahulu, sebelum Rasulullah saw. Diutus sebagai Rasul, kondisi bangsa Arab sangatlah memprihatinkan. Bukan cuma parah, tapi sangat parah. Mulai masalah akidah, moral, akhlak, budaya, politik, sosial, semuanya dalam kondisi jahiliyah! Tapi apa yang terjadi 23 tahun kemudian setelah Rasulullah saw. diutus? Bangsa Arab menjadi bangsa yang paling layak dijadikan percontohan untuk dunia tentang segala aspeknya.
Pertanyaannya, kok bisa?
Pertama, di dalam Islam, kita tidak diajarkan untuk menjadi saleh secara individu. Menjadi saleh sendiri dengan cara menjalankan ibadah-ibadah individu tidak pernah menjadi tujuan dari agama ini. Lebih dari itu, setiap muslim diwajibkan untuk memiliki kesalehan pribadi sekaligus kesalehan sosial. Kesalehan sosial didapat didapat dengan cara banyak melakukan ibadah sosial (muta’adiyah) yang manfaatnya (baca: efeknya) bisa dirasakan oleh banyak orang. Sehingga banyak problem yang menimpa masyarakat pun ikut terselesaikan.
Rasulullah saw. bersabda, “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia lain. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini—Masjid Nabawi—selama sebulan penuh.” (H.R. Thabrani)
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya amal dan kebaikan yang terus mengiringi seseorang ketika meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat, anak yang dididik agar menjadi orang saleh, mewakafkan Al-Qur’an, membangun masjid, membangun tempat penginapan bagi para musafir, membuat irigasi, dan bersedekah.” (H.R. Ibnu Majah).
Hadis Nabi saw. di atas menguatkan bahwa ibadah sosial sangatlah mulia dan penting, baik untuk diri orang yang melakukannya, maupun untuk untuk menyelesaikan problem di masyarakat.
Kedua, salah satu kunci keberhasilan Rasulullah saw. dalam menyelesaikan problem umat di masyarakat adalah karena beliau tidak sendirian dalam menyelesaikan “proyek kebaikan” tersebut. Beliau juga mengajak orang-orang terdekatnya, memberikan pemahaman kepada mereka, mengawal mereka, mengader mereka, lalu menggerakkan mereka menjadi tim dan gerakan masif yang solid. Jika diperbolehkan, saya ingin memberikan istilah tentang apa yang Rasulullah saw. dan para sahabat lakukan dengan sebutan: DUPLIKASI KEBAIKAN.
Maknanya, bahwa Rasulullah saw. “menduplikasikan” kesalehan individu dan kesalehan sosialnya kepada orang-orang terdekatnya, kemudia mereka semua pun “menduplikasikan” kepada sahabat-sahabat lainnya, dan begitu seterusnya, sehingga menjadi suatu kekuatan yang tidak mampu lagi dibendung oleh orang-orang musyrik ketika itu.
Jika disimulasikan, gambarannya bisa seperti tabel berikut ini:
| Tahun Ke- | Jumlah Duplikasi |
| I | 1 |
| II | 5 |
| III | 25 |
| IV | 125 |
| V | 625 |
| VI | 3.215 |
| VII | 15.625 |
| VIII | 78.125 |
| IX | 390.625 |
| X | …..dst |
Dalam konteks saat ini, saya berikan gambaran seandainya kita bisa menduplikasikan kesalehan individu dan kesalehan sosial kepada orang lain. Misalnya tahun pertama kita baru belajar, baru hijrah. Anggap saja kita fokus dengan memperbaiki diri kita sendiri dulu, dengan menambah ilmu, memperbanyak wawasan dan pengalaman dalam ibadah individu dan sosial. Tahun kedua, semisal kita mulai mengajak orang-orang terdekat kita, sahabat-sahabat kita, keluarga kita, yang jumlah ambillah lima orang. Kita ajak mereka belajar tentang Islam, menambah ilmu, memperbanyak ibadah, sekaligus hingga menggerakkan mereka dalam kegiatan-kegiatan sosial yang memiliki nilai kebermanfaatan yang besar. Tahun ketiga, yang lima orang di tahun kedua, melakukan hal yang sama persis seperti kita. Menduplikasikan kesalehan individu dan sosialnya kepada orang lain, yang masing-masing kepada—sebut saja—lima orang juga, maka deret duplikasi itu akan berkembang pesat seperti tabel di atas, hingga mencapai angka yang seolah tidak masuk akal pada tahun ke-10 dan seterusnya.
Maka tidak heran, hanya 23 tahun saja Rasulullah saw. bisa mengubah kondisi masyarakat Arab yang sangat jahiliyah menjadi sangat beradab. Dan wajar pula jika ada seorang ulama sejarah mengatakan bahwa saat Rasulullah saw. wafat, jumlah para sahabat yang beliau tinggalkan adalah sejumlah 120.000 orang. Dan itu semua tidak lain merupakan duplikasi kebaikan yang dilakukan oleh beliau dalam waktu 23 tahun saja. Setelah beliau wafat, jangan dikira duplikasi berhenti. Justru duplikasi it uterus berlipat ganda semakin cepat, yang ditandai dengan semakin banyaknya wilayah-wilayah di luar jazirah Arab yang dibebaskan dari penjajahan.
Apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para sahabat tidak mustahil untuk kita praktikkan hari ini. Karena mereka ada untuk kita contoh (baca: duplikasi) hingga akhir zaman. Maka tunggu apa lagi? Kita harus segera memulai. Krisis yang menimpa umat manusia hari ini sudah kelamaan menunggu uluran tangan kita.
Yuk, dimulai! (*)
Oleh: Aditya Abdurrahman
Editor: Faizahani A.

