BYF – Memiliki idola adalah hal yang wajar. Terlebih di era media sosial seperti sekarang, banyak orang mengidolakan public figur, idol korea, atlet, tokoh tertentu, bahkan influencer.
Dikutip dari laman Muhammadiyah.org, mengidolakan seseorang hukumnya boleh. Islam tidak melarang seseorang mengagumi prestasi, kemampuan, akhlak, atau karya orang lain. Kekaguman bahkan dapat menjadi motivasi untuk berkembang dan meneladani hal-hal positif
Namun tentu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Artikel ini akan mengupas bagaimana pandangan Islam terhadap pengidolaan manusia serta panduan batasan mengidolakan seseorang yang diperbolehkan.
- Tetap menjadikan Rasulullah yang nomor 1
Dalam Islam, sosok yang paling utama untuk diteladani adalah Rasulullah ﷺ. Allah SWT berfirman: “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, mengidolakan seseorang hendaknya tidak sampai membuat kita mengutamakan perkataan, gaya hidup, atau keinginan idola ketika bertentangan dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya. - Tidak mengikuti diluar syariat Islam
Setiap manusia tidak luput dari kesalahan dan dosa. Di sisi lain Rasulullah ﷺ bersabda: “Ketaatan itu hanya dalam perkara yang ma’ruf.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, rasa kagum bukan alasan untuk membenarkan semua tindakan idola. Jika seorang idola melakukan sesuatu yang haram, seorang Muslim tetap harus berpegang pada aturan agama. Kita dapat mengagumi prestasinya tanpa harus mengikuti kesalahannya. - Tidak fanatik
Fanatik merupakan kondisi di mana seseorang secara berlebihan menyukai idolanya. Termasuk membenarkan seluruh perilakunya, dan mengikuti semua gaya hidupnya.
Hal ini tentu termasuk dalam pembahasan nomor 2, yakni semua manusia pasti tidak lepas dari kesalahan. Jangan sampai kita ikut melakukan dosa hanya karena idola yang kita suka. - Tidak menghabiskan waktu dan uang secara berlebihan
Sudah jadi hal lumrah membeli barang, konser, atau mengikuti acara idola. Di antaranya bahkan memerlukan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Maka kebijaksanaan kita sebagai muslim patut diperhatikan.
Rasulullah mengingatkan dalam hadits riwayat Bukhari, “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.”
Karenanya mengikuti idola seharusnya tidak sampai mengorbankan waktu ibadah, belajar, bekerja, dan istirahat. Alangkah lebih baik jika dialihkan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat, seperti menolong orang lain, atau mengembangkan hobi.
Kesimpulannya, mengidolakan manusia sebenarnya adalah hal yang lumrah. Namun tetap perlu diperhatikan tentang menjaga batasan dan adab sebagai seorang Muslim. Akhirnya, standar kebenaran yang digunakan tetap kembali pada Allah dan rasulnya.
Support program kebaikan ini melalui : betteryouth.id
Untuk informasi update program kebaikan selengkapnya, cek Instagram @betteryouthfoundation
